...:::SELAMAT DATANG DI WEBSITE SMK YMIK JAKARTA BARAT:::...

Rabu, 25 Februari 2009

Pengertian Design


Mengusut Asal Mula dan Pemahaman Desain

Pengenalan seni rupa dan desain sangat diperlukan terutama bagi para lulusan SMU dan SMK yang ingin melanjutkan dan menentukan perguruan tinggi mana yang akan ditempuh. Penjelasan akan pengertian seni rupa dan desain ini dimaksudkan untuk membuka wawasan para calon mahasiswa. Demikian pula bagi para perajin dan seniman yang menggeluti seni rupa atau siapa saja yang ingin tahu asal muasal seni rupa dan desain.

MASYARAKAT agraris tradisional di masa lampau tidaklah membedakan antara seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan keagamaan, melainkan lebih banyak menyatu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan keagamaan itu sendiri. Indonesia pada peralihan zaman batu ke zaman perunggu, dikenal sebagai masa "perundagian" -- yaitu suatu masa "kemahiran teknik" mengolah bahan dan mengukir logam, dan para ahli ketukangan disebut undagi. Orang-orang cerdik pandai atau ahli-ahli pada masa lampau di Indonesia sering pula disebut empu. Pada masa kerajaan Hindu ada disebut Empu Gandring sebagai ahli pembuat keris, Empu Tantular sebagai cerdik pandai dengan kitab sastra "Sutasoma", Empu Prapanca dengan kitab "Negara Kertagama" dan lain-lain.

Bali yang merupakan bagian dari wilayah Majapahit pernah memperoleh sekotak wayang dari Raja Hayam Wuruk yang diterima oleh Raja Gelgel, Dalem Semara Kepakisan, seusai upacara pensucian roh (srada) dari Rajapatni, nenek Hayam Wuruk, pada tahun 1362. Tersebutlah nama Raden Sangging Prabngkara (Putra Brawijaya terakhir) yang telah melakukan perubahan dan penyempurnaan warna-warna pada pakaian wayang sesuai dengan martabat ketokohannya, sehingga ahli seni rupa atau desainer pada zaman Majapahit ini namanya juga dipakai sebagai gelar atau sebutan untuk para ahli seni rupa atau perancang desain yakni sangging, sungging, atau prabangkara.

Pengertian seni bagi orang Jawa adalah kencing atau buang air kecil dan air kencing itu sering pula disebut sebagai "air seni". Perkataan "seni" juga untuk menyatakan suatu benda berukuran kecil, mungil, atau "menjelimet" dan rumit. Orang Jawa sering pula menyebut suatu produk hasil dari kehalusan jiwa manusia yang indah-indah dengan istilah kagunan sebagai sesuatu yang bermanfaat. Sering pula disebut ngrawit, dimana pada umumnya produk yang dihasilkan memang mempunyai tekanan pada "halus" atau "rumit" dalam pengerjaannya, yang umumnya disebut kerajinan atau kriya yang memerlukan ketrampilan atau keprigelan.

Kata technic atau teknik yang berasal dari bahasa Yunani techne dipadankan dengan kata ars (Latin), memiliki makna kecakapan atau ketramilan yang berguna. Ini merupakan cikal-bakal dari sebutan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada kemiripannya dengan arti kagunan.

Sebelum Revolusi Industri di Eropa, kata ars mencakup disiplin ilmu tata bahasa logika dan astrologi. Pada abad pertengahan di Eropa terjadi pembedaan kelompok ars yaitu artes liberates atau kelompok seni tinggi yang terdiri dari bidang tata bahasa, dialektika, retorika, aritmatika, geometri, musik dan astronomi. Sementara artes serviles atau kelompok seni rendah yang mengandalkan tenaga kasar dan berkonotasi "pertukangan". Dari tujuh bidang keahlian, hanya musik yang masuk seni tinggi, sedangkan lukis, patung, arsitektur, pembuatan senjata dan alat-alat transportasi termasuk katagori seni rendah.

Kemudian Leonardo da Vinci (1452-1519), pelukis Italia dari masa Renaissance, mempelopori perjuangan dan berhasil memasukkan atau menaikkan seni lukis ke dalam status seni tinggi. Sebagai orang yang serba bisa dan memiliki kemampuan sebagai arsitek dan ilmuwan itu, Leonardo beragumentasi bahwa melukis juga memerlukan pengetahuan teoritis seperti matematika, perspektif, dan anatomi, serta mempunyai tujuan moral seperti puisi lewat penggambaran sikap dan ekspresi wajah dalam lukisan.

Benturan Seni dan Industri
Suatu fenomena kemudian terjadi bersamaan dengan Revolusi Industri di Eropa akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19, di mana masyarakat industri yang baru tumbuh menuntut adanya pembagian kerja dan spesialisasi kerja dalam mengembangkan proses produksi. Dalam masyarakat industri status seni menjadi tiga kelompok yaitu seni tinggi (high art), seni menengah (middle art), dan seni rendah (low art). Kategori ini masih memperlihatkan kelanjutan tradisi klasik, yaitu semakin tinggi kedudukan seni apabila semakin dekat atau tinggi tingkat integrasinya dengan industri. Demikian pula sebaliknya, makin jauh tingkat hubungannya dengan industri maka makin rendah pula kedudukan seninya. Pertemuan seni dan industri tersebut mengakibatkan banyak benturan. Penemuan-penemuan mesin-mesin produksi massal mendorong kalangan industri untuk mengembangkan teknik produksi dan hanya menempelkan reproduksi karya-karya seni klasik yang berstandar pada bentuk produk yang dihasilkan. Hal ini menimbulkan reaksi keras dan serius dari kalangan seniman, sebab standariasi dan mekanisasi serta penempelan begitu saja karya-karya klasik pada produk merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup seni, di samping tidak sesuai bentuk dengan motif dekorasi yang ditempelkan tersebut.

Sehingga, akhirnya seni harus memutuskan hubungan dengan ikatan-ikatan seni masa lalu yang dianggap membelenggu dan membatasi perkembangan seni, karena tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai estetika. Otonomi seni diharapkan dapat mempertegas dan meningkatkan standar nilai estetik secara terus-menerus atau berkelanjutan. Pada akhirnya, seni selalu melahirkan norma yang menjunjung nilai kebaruan, nilai keaslian dan nilai kreativitas yang lebih lanjut mendasari pandangan seni modern pada abad ke-19-20.

Ketika seni telah menjadi komoditi dan tunduk pada hukum permintaan dan penawaran ekonomi, maka seni dianggap jatuh pada selera massa yang rendah dan seni itu menjadi seni picisan atau kitsch. Status rendah ini dikarenakan seni telah kehilangan "roh" atau "jiwa". Jelaslah kiranya pengertian seni yang sekarang dan sepadan dengan art adalah datangnya dari Dunia Barat yang terbentuk pada abad ke-18 sampai abad 20.

Istilah seni rupa di Indonesia muncul dalam surat-surat kabar untuk pertama kali pada masa pendudukan Jepang, dalam laporan dan resensi tentang pameran lukisan. Oleh pemerintah pendudukan, secara resmi istilah itu dipakai dalam sebutan "bagian seni rupa" yaitu nama bagian Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan) yang berurusan terutama dalam lukis-melukis. Para seniman sebelumnya tidak begitu populer menggunakan istilah seni atau seniman yang sepadan dengan art atau artis, tetapi masih mempergunakan istilah "ahli gambar" pada nama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Balai Pendidikan Universitas Guru Gambar, dan sebagainya.

Sejumlah Pengertian soal Seni
Kamus Modern Bahasa Indonesia dari Mohammad Zain yang terbit sekitar tahun 1950, menerangan bahwa yang masuk seni rupa ialah seni lukis, seni pahat dan seni patung. Memang hingga kini dalam pemakaian populer, istilah "seni rupa" sering digunakan dengan lingkup pengertian yang terbatas pada seni lukis, dan seni pahat atau seni patung. Namun, pendidikan formal seni rupa di Indonesia dalam perkembangannya telah memperluas lingkup pengertian istilah itu. Pendidikan tinggi seni rupa dapat menyelenggarakan sejumlah keahlian seperti seni grafis atau desain grafis atau komunikasi visual, desain industri atau desain produk, desain interior atau arsitektur interior, desain tekstil, seni keramik, seni lukis, seni patung dan kriya kayu, logam, kulit, keramik, dan sebagainya.

I Gsuti Bagus Sugriwa dalam tulisan "Dasar-dasar Kesenian Bali" mengatakan bahwa seni berasal dari bahasa Sansekerta sani yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian yang jujur. Seni menurut WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) yaitu suatu karya yang dibuat atau diciptakan dengan kecapakan yang luar biasa seperti sajak, lukisan, dan sebagainya. Atau kecakapan menciptakan sesuatu yang elok dan indah. Sementara difinisi seni menurut Ki Hadjar Dewantara adalah "segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah, hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya". Sedangkan Thomas Munro mengatakan "seni adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lainnya yang melihat. Efek tersebut mencakup tanggapan-tanggapan yang berujud pengamatan, pengenalan imajinasi, rasional maupun emosional".

Lebih lanjut Herbert Read (1962) mengatakan bahwa lahirnya sebuah karya seni melalui beberapa tahapan sebagai suatu proses. Tahap pertama, pengamatan kualitas-kualitas bahan seperti tekstur, warna dan banyak lagi kualitas fisik lainnya yang sulit untuk didifinisikan. Tahap kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas tadi dan menatanya menjadi suatu susunan. Tahap ketiga, proses suatu objektifikasi dari tahapan-tahapan di atas yang berhubungan dengan keadaan sebelumnya. Keindahan yang berakhir pada tahapan pertama belum dapat disebut seni, karena seni jauh telah melangkah ke arah emosi atau perasaan. Seni telah mengarah pada ungkapan sebagai "pengekspresian" dengan tujuan untuk komunikasi perasaan.

Berdasarkan uraian di atas dan pengertian secara umum seni dapat diterjemahkan atau diinterpretasikan sebagai ungkapan atau ekspresi, bentuk, arti, simbol, abstrak, indah, guna atau pakai, kepandaian, kepintaran, kemahiran atau ketangkasan, wakilan (representatif), cantik, molek, mungil atau kecil, rumit, halus, fungsi, kreasi, imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.

Kembali Menarik Seni
Revolusi Industri (1745-1770 M) di Eropa kemudian menghasilkan barang-barang pakai yang menjadi murah dalam mutu maupun ekonomi. Memasuki suatu masa spesialisasi dan otonomi seni, dimana bidang teknik dipisahkan dengan bidang seni, seni bukan lagi bagian penting dalam keteknikan. Kejenuhan akan hasil industri membuat orang-orang tertentu mulai menolak buatan mesin yang dianggap kaku dan polos tanpa sentuhan tangan manusia.

Hal inilah yang membuat para pengusaha dan pemilik modal kembali menarik seni di saat barang atau produk tidak laku dan menjadi murah. Dalam hal ini, agar produk terjual atau dapat menarik pembeli, kemudian para pengusaha atau industriawan membeli seni seperti barang lepas yang tidak ada hubungannya dengan produksi, kemudian menempelkan begitu saja pada benda produksinya. Mereka membeli seni dari berbagai masa seperti zaman klasik Yunani, gaya Neo-clasic, seni Barok, Rococo dan Renaissance dengan menerapkannya pada produk industri dengan seenaknya saja. Tindakan yang keliru ini menunjukkan belum adanya pengertian terhadap persoalan yang sebenarnya dan beranggapan bahwa seni tidak ada hubungannya dengan mesin. Saat itu belum disadari bahwa masalah tersebut dapat diatasi dengan perencanaan bentuk yang akan dihasilkan mesin yang dikenal sekarang sebagai industrial design atau desain produk. William Morris (1870) adalah salah seorang yang mempertanyakan kembali hasil industri, dan menganjurkan untuk kembali kepada ketrampilan, kriya, atau kerajinan tangan, yaitu mencari kemungkinan baru dengan memadukan atau mempertemukan antara fungsi yang praktis dengan seni sebagai unsur keindahan. Pertemuan antara seni dan industri sebagai "seni tengah" yang awal kemunculannya disebut sebagai seni industri atau seni dekoratif atau seni terapan dan pada akhirnya disebut sebagai desain.

Gerakan "Art & Craft" (seni dan kerajinan) memberikan nafas baru kepada barang pakai dengan menekankan pada faktor fungsi dan dekorasi sesuai dengan metode industri atau sistem pembuatan produk dalam jumlah banyak. Selain desain juga kriya yang termasuk "seni tengah" ini memiliki persamaan yang berkaitan dengan proses penciptaan objek pakai. Sedangkan perbedaannya, desain menghasilkan rancangan yang berupa gambar-sketsa, foto, diagram, model, spesifikasi verbal dan numerik, maka kriya hasil akhirnya adalah benda pakai. Dalam proses desain industri realisasi produk dilakukan dengan proses manufaktur. Sedangkan kriya, produk dikerjakan secara tradisional dan manual mulai dari bahan mentah hingga menjadi produk benda pakai, sebagai tradisi techno di masa lalu. Muncullah kemudian suatu istilah machine art atau "seni mesin" yang menunjukkan perlunya unsur seni diterapkan pada produk yang dihasilkan mesin. Kemudian "seni industri" terjadi ketika mekanisasi semakin berkembang di berbagai industri manufacturing. Sistem ini ternyata menuntut ketrampilan ketukangan dan wawasan industri si seniman dalam merancang produk. Baru setelah Perang Dunia II, ketika bisnis modern yang mencanangkan modal, pemasaran dan industrialisasi melanda Eropa Barat dan Amerika, persaingan tak terelakkan bagi dan konsekuensinya setiap industriawan atau pengusaha harus menyusun strategi untuk menjawab dan menjabarkan kebutuhan konsumen yang beraneka ragam, dari daya beli, latar belakang sosial-budaya, cita-cita dan tuntutan lainnya.

Terangkatlah kemudian perancang yang disebut sebagai "desainer" yang berprofesi menelaah bentuk fisik produk dan memikirkan pula kelayakan psikologis, fisiologis-ergonomis, sosial, ekonomis, estetis, fungsi dan teknis. Victor Papanek, seorang pemikir desain terkenal merumuskan bahwa tujuan desain sebagai "pengubah lingkungan manusia dan peralatannya, bahkan lebih jauh lagi mengubah manusia itu sendiri".

Selama perjalanan sejarah kriya dan desain, dimana teknologi telah diterima dan dipahami oleh umat manusia serta menjadikan desain sebagai suatu kegiatan khusus atau tersendiri dari bagian kegiatan industri. Desain merupakan juga bagian dari proses kerja untuk dapat merealisasikannya.

Pengertian desain menurut terminologinya dari bahasa Latin (desionare) atau bahasa Inggris (design). John Echols (1975) dalam kamusnya mengatakan sebagai potongan, pola, model, mode, konstruksi, tujuan dan rencana. Sedangkan Kamus Webster (1974), pengertiannya adalah gagasan awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan dan seterusnya. Demikian Webster berfikir jauh lebih luas akan beban makna.

Khusus dalam seni rupa, desain dapat diartikan sebagai pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual sedemikian rupa menjadi kesatan organik dan harmoni antara bagian-bagian serta secara keseluruhan. Dalam proses desain dikenal beberapa prinsip desain sebagai (1) kesatuan, (2) keseimbangan, (3) perbandingan, (4) tekanan, (5) irama, dan (6) keselarasan.

Sumber : Martyn Online

0 komentar:

Poskan Komentar

PENGEMBANG WEBSITE
Martyn M | Nyono | Ranita Nuzula
Design : Martyn M_____Update : Nyono_____Penulis : Ranita Nuzula

 

SMK YMIK. Copyright 2009 All Rights Reserved SMK YMIK Web Template by Martyn Online Converted into Web Template by SMK YMIK JAKARTA